Mitra Jasa Legalitas- Pabrik Garmen tercatat sebagai salah-satu industri penyumbang devisa negara terbanyak di dunia, karena adanya regulasi ekspor yang kuat. Bahkan di Indonesia sendiri industri ini menjadi penyedia lapangan kerja terbesar bagi 3,7 juta orang lebih. Oleh karena itu, tidak heran jika industri garmen memiliki peran yang cukup penting dan signifikan dalam kehidupan.

Dimana dalam peranan tersebut industri garmen memainkan peran yang turut serta mempengaruhi perekonomian global. Berdasarkan sistem perekonomian dunia yang melibatkan kerja sama antar negara untuk saling memenuhi kebutuhan sandang. Untuk lebih lanjutnya, mari mengenal industri garmen secara dekat berikut di bawah ini!

Pengertian Pabrik Garmen

Pabrik garmen adalah industri yang bergerak di bidang manufaktur tekstil untuk memproduksi pakaian dan perlengkapannya. Sebagaimana tujuan yang berfungsi menghasilkan produk sandang untuk melindungi tubuh manusia maupun mempercantik gaya tampilan mereka. Dalam menunjukkan suatu identitas dan gaya kepribadian dari seseorang.

Secara umum garmen memang dirancang untuk tujuan memproduksi pakaian tertentu. Contohnya pakaian atletik, jaket, hingga seragam kerja yang terbuat dari bahan dasar pembentuk kain seperti katun, wol, atau bahan sintetis (polyester dan nylon). Sebagai salah-satu sektor industri yang melakukan berbagai kegiatan ekonomi mencakup produksi, distribusi, dan penjualan.

Jadi, industri garmen ini merupakan satu kesatuan atau kepanjangan tangan dari tekstil yang tidak dapat dipisahkan. Dimana tekstil lebih cenderung mengacu pada bahan yang membentuk kain seperti serat alami (kapas/wol) dan serat sintetis (nylon atau polyester). Sementara industri garmen hanya merujuk pada produksi pakaian atau penutup tubuh lainnya.

Perbedaan Garmen dan Tekstil

Adapun perbedaan garmen dan tekstil yang seringkali masih dianggap sebagai satu istilah dengan makna sama. Namun, tenyata dari skala produksi yang secara gamblang berbeda. Garmen merupakan produsen yang memproduksi pakaian jadi dalam skala besar dengan melibatkan bantuan mesin jahit dan pegawai.

Alhasil proses pembuatan dapat menghasilkan ribuan potong pakaian dalam satu kali produksi. Menggunakan operasi berbagai teknologi canggih dan praktis yang menunjang kecepatan kerja menjadi lebih efisien dan kualitas produk mampu mencapai target. Sedangkan industri tekstil berperan sebagai produsen yang mengubah serat menjadi benang, bahan dan kain hingga siap dijahit.

Proses produksi tekstil ini tidak jauh-jauh dari pemintalan, penenunan, perajutan, finishing atau pencelupan, dan pencetakan. Sederhananya perbedaan garmen dan tekstil terletak pada fokus produksi yang masing-masing memiliki tujuan. Namun, dapat Anda simpulkan bahwa garmen itu tekstil tetapi tekstil belum tentu garmen.

Proses Produksi Pabrik Garmen

Perlu Anda pahami bahwa proses produk pabrik itu melewati banyak tahapan yang memiliki tanggung jawab dan peranan masing-masing posisi. Seperti yang dapat Anda ketahui melalui poin-poin sebagai berikut :

1. Receiving Fabrics

Istilah receiving fabrics ada pada tahapan pertama produksi industri garmen yang menggambarkan penerimaan kain. Kain diterima oleh pabrik dari produsen tekstil yang masih berbentuk gulungan menyerupai tabung karton. Melalui pengiriman yang biasanya menggunakan container dan dibongkar dengan forklift untuk disimpan pada area khusus penyimpanan kain.

2. Fabric Relaxing

Fabric Relaxing merupakan tahapan selanjutnya yang mengacu pada proses pra produksi secara manual maupun mekanis menggunakan bantuan mesin otomatis. Agar bahan baku kain yang akan diproduksi tersortir dengan baik meliputi penilaian menyeluruh. Sehingga jika ditemukan cacat bahan seperti ketidakkonsistenan warna, garmen dapat mengirimkan kembali ke produsen tekstil.

3. Spreading, Form Layout, dan Cutting

Bahan kain akan dipotong menjadi lapisan seragam untuk disebarkan secara manual maupun otomatis menggunakan sistem komputer. Spreading, Form Layout, dan Cutting ini bertujuan agar operator produksi bisa mengidentifikasi cacat kain. Melalui pengontrolan pemotongan dan konsep bentuk kain sesuai kebutuhan.

4. Laying

Laying merupakan tahapan berikutnya dari produksi garmen yang dilakukan dengan cara meletakkan pola kertas di atas kain sebelum pemotongan. Pastikan pola ditempatkan pada bagian yang benar sehingga tidak ada kesalahan cutting saat penempatan.

5. Marking

Marking atau proses menandai kain sesuai pola dapat dilakukan secara manual maupun otomatis yang umumnya menggunakan kertas penanda. Sesuai simbol tertentu dan alat yang akan dipasangkan pada kain dengan menggunakan pin, staples, atau perekat. Untuk memudahkan proses pemotongan kain menyesuaikan perencanaan pola.

6. Cutting

Cutting atau Pemotongan kain merupakan tahapan paling krusial dalam produksi industri garmen. Hal ini karena, tingkat kesalahannya sudah masuk ke dalam tahap cacat serius yang sulit diperbaiki. Pasalnya setelah kain dipotong maka tidak akan bisa diubah kembali. Selain itu, dapat mempengaruhi hasil akhir ketika memasuki proses menjahit.

7. Embroidery dan Screen Printing

Tahapan embroidery dan screen printing biasanya hanya dilakukan jika ada permintaan khusus dari pelanggan. Dimana pada proses embroidery atau bordir biasanya dilakukan menggunakan peralatan otomatis. Sementara screen printing (sablon) menggunakan mesin press dan pengering tekstil adalah proses penerapan grafik berbasis cat ke kain.

Selain ketujuh tahapan tersebut, produksi pabrik garmen juga masih harus melalui beberapa proses lainnya. Meliputi Sewing (Penjahitan), Checking (Pengecekan), Spot Cleaning dan Laundry (Pencucian), Washing dan Pressing (Peleburan dan Pengepresan) hingga Packaging dan Shipping.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hubungi kami di : 0821-3250-5553

mitrajasalegalitas@gmail.com